History kh Pekerja Malam

Namaku khia (bukan nama sebenarnya) aku lahir di Kampung di daerah Kabupaten Karawang sejak kecil aku memiliki pengalaman yang sangat pahit. Aku  dua bersaudara, aku memiliki kakak perempuan  sejak umur 10 tahun aku sudah ditinggal orang tua (ibu) bekerja sebagai TKI di Arabsaudi dari situ  bapakku mulai sakit-sakitan. Karena kami masih kecil dan tidak ada yang mengurus dirumah  bapak dan aku dibawa bibi ke Subang sedang kakak perempuanku  tetap di Karawang dengan suaminya. Tidak lama kami berada di Subang berapa bulan kemudian bapak dipanggil Yang Maha Kuasa karena ketidakmampuan melawan penyakitnya. Aku sangat terpukul dengan kepergian bapak yang sangat kucintai, sedih sudah pasti jauh dari keluarga inti. Kakak perempuanku satu-satunya tidak bisa datang ketempat peristirahatan bapak yang terakhir begitu juga dengan Ibu yang masih di Arabsaudi.

Hari berlalu bulan berganti dan kurang lebih empat tahun ibu tidak pernah ada khabarnya aku hidup sebatang kara dibawah asuhan bibi yang tidak seperti asuhan orang tua sendiri. Aku tidak punya waktu untuk bermain seperti anak-anak seumuranku,  bibi menyuruh aku bekerja dari pagi hingga larut malam . Pagi saat orang masih terlelap dengan tidurnya aku harus bangun dan pergi   kepasar untuk  membeli bahan sayur mayur kebutuhan warung milik bibi, sampai dirumah aku harus membantu memasak hingga semua olahan makanan tersaji diwarung. Aku juga harus menjaga warung sampai malam tiba meskipun aku tidak bekerja sendiri ada orang lain yang membantu namun aku merasa lelah. Selama beberapa lama hal seperti itu yang terus aku lakukan mulai dari menyiapkan, menyajikan hingga merapikan warung, waktu itu aku masih kecil tenagaku tidak seperti orang dewasa.Padatnya kegiatan sampai akhirnya  sekolahku menjadi putus ditengah jalan bahkan bibi juga melarangku bermain dan mengaji. Namun ditengah kesibukanku aku tertarik untuk mendalami mendalami ilmu agama yang aku peroleh dari pengalamanku diajak bibi berziarah ke orang pintar, aku sering puasa dan puasa hingga aku bisa melihat dunia ghaib. Aku merasa punya indra ke-6 bibi sayapun tidak tahu kalau aku punya kelebihan  itu.

Aku mulai jenuh bosan dengan keadaan yang kujalani setiap harinya rasa penasaranku dan keinginan untuk coba-coba  sebagai anak yang menginjak masa remaja mulai menggelitikku aku mencoba minuman yang juga dijual oleh bibi. Secara sembunyi sembunyi aku minum minuman keras, berbagai merk sudah aku coba rasakan hal itu aku lakukan di saat bibi tidak ada dirumah sedang ziarah. Disitu aku bebas minum, bermain keluar namun sepandai pandainya aku menyembunyikan akhirnya bibiku tahu juga. Betapa marahnya bibi saat itu sampai-sampai aku pernah dikunci dikamar selama beberapa hari hanya diberi minum air putih aku ingin kabur ingin pulang kerumah namun tak tahu arah jalan pulang ke Karawang.  Saat itu umurku baru 14 tahun semua jenis minuman sudah pernah aku coba begitu pula dengan obat-obatan terlarang bahkan suatu hari aku pernah sakau/ketergantungan obat hingga tanganku kuiris-iris. 

Kejadian yang tidak pernah aku lupakan suatu hari aku masak air dengan panci besar untuk dituang ke teko atau termos persediaan minum diwarung   tetapi air itu tumpah dan mengenai seluruh tubuhku. Sakit luar biasa  yang kurasakan saat itu sekaligus panic dengan kondisi tubuhku kemudian aku  dibawa ke klinik. Selama  satu bulan aku terbaring di rumah sakit tergolek ditempat tidur karena luka yang kualami. Syukur Alhamdulillah aku bisa sembuh seperti sedia kala oleh bibi aku diajak ziarah ke pulau Jawa dan Madura (buang sial) selama satu minggu sepulang berziarah aku pergi kemakam bapak.

5 tahun telah berlalu, aku  tinggal dengan bibi di Subang banyak cerita suka dan duka yang kualami hingga suatu hari  aku mendapat khabar dari kampung ibu sudah pulang dari arab Saudi. Akhirnya aku bisa bertemu dengan ibu setelah 5 tahun tidak bertemu, dan tidak terdengar khabarnya. Selama satu minggu aku melepas kangen dengan ibunda tercinta dan aku harus kembali lagi ke Subang karena bibi sudah merawat aku sejak kecil hingga remaja menganggap  aku sebagai anaknya. Maklum bibi tidak memiliki keturnan dan aku sudah dianggab seperti anaknya sendiri. Dengan hati berat aku tinggalkan ibu dan kakak perempuanku di kampung halaman, aku kembali ke Subang tinggal bersama bibi hanya satu tahun sekali aku bertemu dengan keluarga.

Singkat cerita delapan tahun aku tinggal dengan bibi, suatu hari aku akan dijodohkan dengan pria yang tidak aku cintai, bibi memaksaku akhirnya aku kabur dari rumah bibi pulang ke orang tuaku di Karawang. Disitulah aku ceritakan perasaan suka duka dan pengalaman pahit yang kupendam selama tinggal dengan bibi  8 tahun kepada  ibu kandung,akhirnya ibu memutuskan tidak megijinkan aku kembali lagi ke Subang. Aku bahagia dan senang bisa berkumpul lagi dengan keluarga intiku meskipun bapak telah tiada.

Aku gembira mendapat jodoh dikampung namun disisi lain aku juga merasa sedih kakak perempuanku mengalami masalah keluarga dan akhirnya bercerai, anaknya dibawa suaminya dan kakakku pergi ke Tangerang untuk bekerja. Ditengah kebahagianku bersama keluarga aku harus  meninggalkan suami dan anak untuk mencukupi kebutuhan keluarga dengan mengikuti jejak ibuku bekerja sebagai TKI di Arab Saudi selama 4 tahun. Aku pulang dengan membawa hasil jerih payah selama bekerja di Arab Saudi cukup banyak, aku berencana membangun usaha (berdagang) bersama suami. Selama 5 tahun aku menjalani usaha Alhamdulillah berhasil dan sukses rumah dan isinya aku punya,aku juga diberi kelebihan untuk mengobati orang. Rejekiku saat itu mengalir secara materi aku berkecukupan ditengah perjalanan aku menerima cobaan dari Alloh Swt yang menyebabkan aku harus berpisah dengan suamiku. Anakku ada padaku sedang suamiku pergi dengan membawa harta benda  yang ku miliki yang ditinggalkan hanya hutang dan setoran bank yang  harus kubayar setiap bulannya. Pikiranku kacau balau bagaimana caranya aku dapat melunasi hutang yang begitu banyak disisi lain aku juga harus menghidupi anak dan ibu akhirnya usahaku jatuh gulung tikar tanpa ada pendamping dalam kehidupanku.

Aku merasa hidupku sudah hancur disitulah aku putuskan untuk keluar dari kampung mengadu nasib di Kota, Akhirnya pilihanku jatuh ke Kota Bekasi yang kuanggab jarak yang terdekat dengan rumahku selama di bekasi aku pulang seminggu sekali untuk melunasi hutang /setoran bank. Di Bekasi aku bekerja sebagai pelayan kafe karena pekerjaan itu yang bisa kulakukan dan kuanggab bisa memenuhi kebutuhan keluargaku, selama 2 tahun aku bekerja akhirnya aku putuskan untuk berhenti karena aku merasa lelah. Aku mulai berpikir keras lagi dengan cara apa aku harus bertahan hidup dan mencukupi kebutuhan keluargaku ada rasa bimbang antara usaha dagang lagi atau bekerja sebagai TKI di Arab akhirnya aku putuskan untuk membuka usaha dagang lagi karena kalau pergi ke Arab ibu smakin tua/ lanjut usia  dan anakku tidak ada yang mengurus sedang kakak perempuanku berada di Tangerang.

Aku Dagang keliling kosmetik di kampung dengan penghasilan kecil namun Alhamdulillah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan setoran bank kurang lebih satu tahun aku jalani dagang keliling disaat rasa jenuh dan rasa bosan melanda aku main ke Tangerang tempat usaha kakakku. Kakakku punya usaha warung yang jual minum-minuman keras selama 2 hari aku diTangerang kemudian pulang ke Karawang sambil bawa dagangan rutinitas itu yang kulakukan hingga aku menemukan jodoh di Tangerang. Aku menikah sirri dipernikahanku yang kedua ini lagi-lagi rumah tanggaku hanya bertahan 8 bulan, suami sirriku tidak pernah datang ke Karawang dan  jarang memberikan nafkah kalau tidak bekerja aku tidak punya uang aku merasa lelah cape untuk bolak balik Karawang – Tangerang  akhirnya aku putuskan untuk bercerai. Hidupku gagal untuk kedua kalinya.

Aku merasa frustasi masa lalu yang pernah kukubur dalam-dalam harus kubuka kembali, aku mulai minum dan memakai obat-obatan. Setiap kali pulang dagang keliling aku istirahat sebentar dan kumpul dengan teman-teman untuk mulai minum, pulang malam dalam keadaan mabok berat. Hampir setiap hari pekerjaan seperti itu aku lakukan karena aku merasa sudah gagal, stress dan itu pelarianku setelah gagal berumah tangga. Suatu hari aku bermain ke Tangerang ketempat kakakku dan pacar lamaku berada. Aku sudah janjian bertemu dengan pacar di warung kakak, hari itu tanggal 3 sept 2016 tepat dimalam minggu pk.20.00 aku bertemu pacar dan dibawa jalan-jalan karena sudah beredar isu akan ada razia gabungan akhirnya semua penghuni warung termasuk kakak dan teman-teman pergi untuk menghindari razia sampe jam 24.00 saya terima telp dari kakak saya  kalau keadaan sudah aman dan saya diminta kembali ke warung disitu pacar saya sempat menolak kembali ke warung setelah saya bujuk akhirnya pacar saya bersedia ke warung. Disitu saya minum sepuasnya tepat jam 02.00 petugas satpol pp datang membawa semua penghuni warung ke kepolisian,disitu kami ditanya satu persatu termasuk kakak saya sebagai pemilik warung selama satu hari satu malam saya dan teman-teman berada di kepolisian setelah dilakukan negosiasi dengan berat sedih dan kesal dan marah saya dan teman-teman sekitar 8 orang dibawa ke Pasar Rebo. Saat itu yang ada dipikiranku salah dan dosa apa yang saya lakukan hingga sampai begini namun saya sadar ini teguran dari Yang Maha Kuasa supaya saya berprilaku baik. Akhirnya aku pasrah atas smua cobaan dan ujian yang diberikanNya. Aku terima dengan ikhlas karena sudah takdir yang harus dijalani.

Kehidupan baru diPasar Rebo merupakan babak baru dalam kehidupanku di Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya” Jakarta banyak hal yang dapat aku pelajari, Berbagai macam pengetahuan dalam menambah wawasan aku dapatkan disini aku merasakan bisa kuliah di universitas kehidupan ditempat ini tepatnya. Hal yang tidak aku ketahui menjadi aku pahami, pikiranku mulai terbuka ditempat ini aku belajar keterampilan tangan handycraft membuat/merangkai bunga,bros, gelang dari manic-manik aku menikmatinya aku menekuninya dan aku ingin setelah keluar dari sini aku akan mengembangkan menjadi usaha baru sambil terus melanjutkan usaha dagang keliling. Pikiranku sempat goyah selama berada ditempat ini orangtuaku sudah mulai sakit-sakitan dan tanggungan setoran, arisan yang harus aku tanggung setiap bulannya membuat aku berubah pikiran untuk mencoba kabur dari sini dan rencana kabur itupun aku tindaklanjuti namun aku gagal. Aku mulai instropeksi lagi mungkin ini jalan hidup yang harus aku jalani di PSKW Mulyajaya support dari bapak ibu peksos yang selalu menguatkan aku untuk tetap bertahan, belajar dan bersabar. Aku ingin berkembang,doa slalu kupanjatkan  selama aku berada di sini keluargaku diberikan kesehatan  jasmani rohani di lindungi oleh Alloh Swt dimudahkan rejekinya. Meskipun oleh sebagian orang aku dianggab hina aku  ingin berubah menjadi Wanita yang baik berkepribadian dan berperilaku sopan agar dihargai semua orang dan tidak terjerumus kelembah hitam. Menjadi orang sukses dan meraih cita-cita setinggi langit itulah harapanku. Itulah pengalaman hidup saya dan semoga sekali dalam seumur hidup saya berada di Pasar Rebo.
Salam sayang tak kan hilang. Salam manis tak kan habis. Untuk semua.

                                                                                                Jakarta, 15 Nopember 2016 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal lebih dekat Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya “ Jakarta

Handycraft

Menggapai Asa di Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya” Jakarta