Cerita
putih biru ABG
Sebut
saja bunga (bukan nama sebenarnya) saat ini berusia 14 th duduk dibangku sekolah kelas 8 di sekolah
swasta di Kabupaten Tangerang. Sebagai anak ABG selain melanjutkan study
bersama teman lainnya disela jam kosong bermain dan kongkow bersama teman lainnya. Bermula di jam sekolah
yang kosong bunga bermain sebelum jam pulang tiba, bunga berkenalan dengan
seorang yang sebaya dengannya sebut saja Dewi(bukan nama sebenarnya) perkenalannya
berlanjut dengan janjian di mall, jalan
bareng, sering ditraktir makan dan diajak belanja. Suatu hari bunga diajak
jalan dan singgah disebuah hotel didaerah Tangerang tanpa menaruh curiga bunga masuk
mengikuti bunga. Di ruang tunggu bunga ditinggal lumayan lama akhirnya diajak
masuk kesalah satu kamar yang didalamnya sudah ada lelaki paruh baya dengan
mata sipit dan perut gembulnya. Bunga ditinggalkan dan dikunci dari luar,
bingung dan takut saat itu bunga berusaha minta keluar namun tak dihiraukannya. Bunga dipaksa untuk
melyani orang tersebut setelah dirasa cukup bunga disuruh keluar diluar bunga
sudah ditunggu oleh Dewi dan disodori uang satu juta. Dengan gemetar bunga
pulang kerumah, semua perasaan bercampur aduk takut, sedih dan galau, bunga
merasa uang tersebut uang yang paling
besar yang pernah ia miliki.
Bunga berasal dari
keluarga yang pas-pasan boeh dibilang kurang mampu, untuk kebutuhan
sehari-harinya bunga tidak pernah megang uang saku lebih dari sepuluh ribu,
setelah kejadian tersebut bunga menjadi pendiam dan menutup diri ,tak ada
keberanian menceritakan kejadian pada keluarga, semua disimpan rapat rapat
hingga hari berlalu minggu berganti bunga tetap beraktivitas sekolah dan kongkow
bersama teman yang lain. Bunga bercerita
tak sedikit teman sekolah yang ia kenalkan pada sosok perempuan bernama Dewi, berarti banyak teman-teman bunga yang nasibnya
tidak jauh berbeda dengan dirinya menjadi korban perdagangan orang .
Sebagai seorang perempuan yang sudah menginjak
ABG bunga memiliki teman laki-laki suatu hari bunga bersama 2 pasang orang
teman lainnya main ke rumah salah satu temannya mereka bercerita dan
bercengkrama dalam kamar tidak ada teguran dari orang tua bahkan terkesan dibiarkan bermain didalam
kamar hingga akhirnya terjadilah hal-hal yang dilakukan layaknya sepesang suami
istri didalam kamar tersebut mereka melakukan dengan pasangannya tanpa malu. Bunga
merasa kegadisannya sudah direnggut oang lain maka dengan mudahnya juga bunga
menyerahkan kegadisannya pada sang pacar, hal tersebut terjadi secara berulang
yang membuat miris saat ini bunga berbadan dua dan sang pacar tak mau
mengakuinya karena menganggap pertama kali memakai bunga sudah tidak perawan
lagi.
Fenomena yang terjadi
dikalangan remaja saat ini menganggap sepele status kegadisannya, seakan semua
sudah menjadi hal yang wajar biasa terjadi pada remaja. Ada yang salah dalam
mendidik generasi penerus ini akhlak moral yang mereka miliki seakan luntur
oleh perkembangan teknologi dan perkembangan jaman.
Hal ini menjadi warning bagi orang tua, pendidik dan ulama negeri ini,
jangan sampai ada pembiaran semua harus dibenahi, mulai dari dalam keluarga.
Kepedulian dan perhatian pada anak-anak terutama anak ABG yang butuh perhatian
dan kasih sayang terkadang orang tua sibuk dengan pekerjaan hingga lalai akan
kewajibannya dirumah sebagai pengayom. Anak-anak mulai tidak tertarik kemasjid
karena menganggab bermain game lebih mengasyikan, lingkungan pergaulan dengan
mudahnya mereka meniru gaya di media sosial harus ada batasan dalam mengakses
media sosial saat ini. Mari kita peduli sapa lagi kalau bukan kita karena masa
depan bangsa calon generasi penerus kita ada dipundak kita semua .
Save anak bangsa.
Komentar
Posting Komentar