Bersinergi mengatasi permasalahan PMKS (Tuna Susila)
Berawal dari masih banyaknya PMKS (Tuna
Susila) dinegri ini yang smakin
berkembang, tidak hanya cukup dengan menutup lokalisasi ,memberikan
rehabilitasi social namun juga diperlukan terobosan yang lebih tepat dalam
penanganannya sehingga PMKS (Tuna Susila) memiliki kesadaran diri untuk keluar
dari profesinya dan beralih dengan profesi baru.
Dilihat dari latar belakang bahwa tak ada seorang wanita dimanapun
yang menginginkan profesi sebagai tuna susila, pekerjaan yang halal, barokah
yang diinginkan. Keadaan yang menjadikan gelap mata karena kondisi dan terdesak
oleh kebutuhan sehingga pekerjaan
sebagai wanita tuna susila dijalaninya. Sebagian dari mereka beranggapan
pekerjaan yang mudah mendatangkan rupiah, tidak memerlukan waktu lama, modal
sendiri bukan pinjaman.
Beberapa kali melakukan wawancara dengan tuna susila secara personal
mereka menjerit, menangis dengan profesinya mendapat stigma negative dari masyarakat maka tak jarang mereka
melakukan profesinya diluar dari
daerahnya dan mengganti identitas dengan identitas yang baru agar tidak
dikenali.Banyak kebohongan yang dilakukan tuna susila tidak hanya ditempat
kerja saja namun juga kepada keluarganya, mereka bercerita pada keluarganya
bekerja di salah satu pabrik dikota A atau bekerja di Toko/mall sehingga
kehidupannya dipenuhi dengan kebohongan/kepura-puraan.
Sebagaian besar profesi tuna susila adalah mereka yang berpendidikan
rendah/pas pasan yang tidak memiliki ijazah dan keterampilan sehingga untuk
mendapatkan pekerjaan mengalami kesulitan. Tak jarang pula karena gaji yang
kecil kerja dari pagi hingga sore hari dengan banyaknya tekanan dan tergiur
dengan iming-iming uang yang banyak mereka rela keluar dari pekerjaan menjalani
pekerjaan yang baru sebagai tuna susila meskipun melanggar norma adat dan
agama. Hati mereka seakan sudah tertutup, mental dan harga diri yang rendah
sehingga mereka menjalani profesinya
hingga bertahun-tahun bahkan sampai beranak cucu. Kesadaran diri dan konsep
diri yang mereka miliki sangat kurang sehingga emosinya menjadi labil.
Faktor yang menjadi penyebab permasalahan tuna susial selain karena
kebutuhan ekonomi / kemiskinan juga disebabkan oleh factor adanya konflik dalam
keluarga, kebutuhan sexualitas yang
tinggi yang biasa disebut hiper, dan
factor gaya hidup hedonism. Selain
merusak moral sendiri juga merusak moral masyarakat, menularkan penyakit yang
biasa disebut dengan Infeksi Menular Sexual, Meninggalkan penyakit dalam
dirinya hingga penyakit HIV dan AIDS yang rentan menyerang mereka.
Fenomena tentang permasalahan tuna susila oleh sebagian masyarakat
dipandang sebelah mata kurang mendapatkan respon dari berbagai pihak karena
dianggap sebagai penyakit masyarakat kaum marjinal yang melanggar norma.
Pengentasan tuna susila diperlukan kontribusi dari berbagai pihak
dalam hal ini Kementerian Sosial menjalankan fungsi rehabilitasi bagi
penyandang melalui panti diberikan bimbingan fisik, mental,social dan
ketrampilan selama menjalani rehabilitasi penerima manfaat (sebutan untuk tuna
susila yang menjalani rehab) timbul permasalahan lain karena terdapat anggota
keluarga yang harus dipenuhi kebutuhannya, anak-anak yang harus melanjutkan
pendidikan, perhatian dan kasih sayang yang sementara tidak dapat sepenuhnya diberikan.
Kompleksnya permasalahan yang mereka hadapi tidak serta merta menjadi tanggung
jawab dalam panti perlu sinergi antar lembaga seperti Dinas Sosial, Lembaga
Kesejahteraan Sosial, Disnaker, Dinas koperasi dan UKM dengan pihak swasta
terutama pada pemilik modal dan penyedia lapangan kerja.
Maya
Setyowati
(Peksos
Muda PSKW”MJ” JKT)
Komentar
Posting Komentar