Pertemuan dengan suku Baduy


Senin, 27 Februari 2017 dipagi yang cerah disaat sebagian orang sibuk beraktifitas menuju tempat kerja mereka masing-masing dan anak-anak pergi kesekolah,  dalam perjalaan ketempat kerja ditengah sibuknya lalu lintas jalanan ibu kota tiba-tiba pandangan saya  terusik dengan sosok asing yang berjalan apik dipinggir trotoar sambil memanggul barang yang terlihat sangat berat.Foto Maya Setyowati.

Dalam kelompok kecil mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki , berpakaian adat dengan ikat dikepala mereka melangkah sambil memanggul barang dipundaknya. Terbersit dalam benak saya  mungkin ini yang dinamakan suku baduy yang sedang menjual hasil buminya ke kota, ingin rasanya bertemu dan langsung berkomunikasi dengan mereka. Ternyata  keinginan saya bisa untuk bertemu langsung, bertatap muka dan melakukan komunikasi dengan mereka didengar oleh Alloh SWT. Laju motor saya terhenti dipinggir flyover daerah Pasar Rebo disaat  buah hati saya akan berpindah dari motor ayahnya ke motor saya tepat ditempat saya berhenti Suku baduy menghentikan langkahnya dan langsung menawarkan madu. Disitu saya baru tahu ternyata yang berada di atas pundaknya adalah madu yang sudah dikemas dalam botol besar ukuran 800 ml. Berat itu pasti terdapat kurang lebih 10 botol dalam tiap kantong berarti sekitar 20 botol madu yang harus mereka pikul dipundaknya dengan berjalan kaki dari tempat tinggalnya  di daerah Banten. Terbayang berapa puluh kilo meter yang harus mereka tempuh dengan membawa bawaan yang berat namun semangat dan kerja keras mereka untuk menjual karyanya sangat lur biasa.Foto Maya Setyowati.



Menurut cerita dan beberapa literature tentang  Suku baduy terbagi dalam Baduy luar dan Baduy dalam, keduanya masih sangat memegang adat istiadat, selalu menjaga kelestarian alam.  Alat transportasi sudah beraneka ragam namun mereka tidak mau menggunakannya dalam bepergian dan pulang selalu berjalan kaki. Untuk mempertahankan hidupnya mereka bercocok tanam , membuat anyaman dan madu yang semua itu dijual keluar wilayahnya. Maka tak heran suku Baduy pergi ke Jakarta untuk menjual hasil pertaniannya, Madu yang dihasilkan  dikemas dalam botol sirup dan ditutu rapi, meski masih dalam ketradisionalan namun kemasan yang digunakan cukup bersih dan rapi. Bersyukur bisa bertatap muka langsung dengan suku Baduy dan berbincang sekaligus mencoba hasil produknya.
Rata-rata suku Baduy memiliki  postur tubuh yang ideal,  terlihat sehat dan segar sekaligus memiliki kulit yang bersih , pola makan yang mereka konsumsi masih alami , hal ini sangat berbeda dengan kita yang notabene sebagai masyarakat  modern selalu mengikuti perkembangan jaman dengan mudahnya menerima budaya,kultur yang berbeda secara fisik terlihat kuat, besar namun mudah lelah dan makanan yang dikonsumsipun  beraneka macam bahkan cenderung instan.

Mengagumi mereka (Suku Baduy)yang masih mempertahankan tradisi adat istiadat, menjaga bumi melestarikan alam. “Bumi dan isinya tempat kita tinggal kalau bukan kita yang jaga  lalu siapa lagi”, Alam rusak, binatang musna,banjir, tanah longsor yang terjadi akhir-akhir ini semua juga karena ulah manusia, sudilah kiranya kita memulai dari diri sendiri. Ayo jaga lingkungan, Tanam pohon selamatkan bumi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal lebih dekat Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya “ Jakarta

Handycraft

Menggapai Asa di Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya” Jakarta