Perjuangan hidup

Perjuangan hidup
Selesai membaca tulisan baru kusadar  air mataku sudah berjatuhan membasahi meja kerjaku siang itu, larut dalam suasana masa lalu yang penuh haru perjuangan menghadapi hidup seorang anak manusia. Sebut saja Ika  yang saat itu berusia kurang lebih 2 tahun memiliki masa lalu yang begitu suram, tinggal dipulau terpencil  perbatasan Indonesia dengan Negara Filipina  jauh dari hiruk pikuk kehidupan apalagi dari kota metropolitan harus berjuang hidup bersama ibunya yang sedang mengandung. Keterbatasan ekonomi memaksa sibocah kecil untuk  turun kedapur sekedar memenuhi isi perut, dari tangannya yang mungil satu persatu kayu bakar disusun didalam tungku  hingga menyala diatas perapian ditaruh belanga yang berisi air dan batu .Direbusnya itu batu sampai mendidih hal seperti ini yang bisa dilakukan hingga berhari- hari dan mengganjal perutnya dengan batu tuk menahan rasa lapar yang melilit.
Sang ibu tak bisa berbuat banyak karena kondisi sedang hamil, tak bisa bekerja lebih keras sedangkan sang ayah yang semestinya sebagai kepala keluarga memenuhi kebutuhan keluarga tak berada disisi mereka, Dalam usia yang relative masih balita kedua orang tuanya berpisah, ayahnya pergi tak tahu rimbanya kebutuhan hidup sehari-hari tak pernah tercukupi , sanak saudara berjauhan hingga keduanya  harus berjuang demi kelangsungan hidup mereka. Sang ibu tak ingin keberadaannya diketahui oleh lingkungan sekitar, tetangga dekatpun juga tidak tahu persis kesulitan yang mereka hadapi karena aktifitas memasak berlangsung setiap hari, tetangganya beranggapan kebutuhan makan terpenuhi terbukti hampir setiap hari ada aktivitas memasak, miris sekali kedengarannya yaa memang seperti itu adanya, tak berhenti disitu sianak kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari sang ibu, beban hidup yang harus dijalaninya seorang diri  kerap kali dilampiaskan pada sang anak mulai dari cacian, rotan dan kayu sering mendarat di bagian tubuhnya yang masih mungil.
 Hari berganti dengan bulan dan tahun sianak kecil ini tumbuh menjadi seorang anak yang sudah menginjak dewasa  tak seperti kebanyakan anak pada umumnya penuh dengan keceriaaan yang suka berjalan dan  berpesta ika tumbuh sebagai pribadi yang pemalu, tertutup dan pendiam. Rasa trauma masa kecil dan rasa kebencian pada sosok seorang ayah begitu membekas dalam ingatannya tak jarang kekesalannya dipendam hingga sering merasa kesakitan sendiri, emosi tak labil sering kali membuat teman-temannya  aneh. Perlahan dan pasti sianak  mulai bangkit menjalani hidup, bertekat memperbaiki kehidupan keluarganya dengan giat dan tekun belajar menjahit, support dari teman dan ibu pengampu mampu memberikan semangat menatap masa depan. Manusia tak akan pernah kembali kemasa lalu, tak akan pernah terulang kembali oleh karenya tatap masa depan yang lebih terang gemilang. Semangat RA. Kartini yang patut diteladani kaum perempuan yang menginspirasi banyak wanita sukses dalam berkarir dan berkeluarga. Semoga tulisan ini bisa dijadikan renungan bagi semua  bahwa untuk mencapai kesuksesan butuh pengorbanan dan perjuangan yang berliku dan panjang butuh kegigihan dan kekuatan menghadapinya.Semanggat  …
                                                                                   

21 April 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal lebih dekat Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya “ Jakarta

Handycraft

Menggapai Asa di Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya” Jakarta