Engkau dibuang, tanpa keluarga

Biasa dipanggil dengan sebutan nenek ha, nenek sid dan tete wa entah sudah berapa lama menghuni kamar ukuran 2x3 disalah satu wisma yang pasti keberadaannya disudah lama, dan hidupnya  bergantung pada pemberian panti. Menurut cerita yang kudengar ketiganya ditinggalkan keluarga lantaran penyakit yang dialaminya waktu itu (kusta) keluarga sudah tak mau mengakuinya bahkan melihat dan menengok saja tak pernah. Sungguh prihatin sekali melihat mereka orang seusia mereka yang seharusnya bisa kumpul dengan keluarga diusia senja, dimanja anggota keluarga harus tersingkirkan hidup seorang diri tanpa keluarga. 

Bahasa yang sulit kupahami membuat kendala tuk berkomunikasi sehingga banyak kata yang tidak kumengerti saat melakukan kontak dengan beliau, melihat air mata yang keluaar   dari raut muka tuanya membuatku teringat akan orang yang telah melahirkan dan membesarkanku disebrang sana. maafkan aku mbok pak belum bisa membahagiakan, maafkan ananda kalo selama ini masih jauh dari pelukan kalian. 

Tidak banyak keinginan dari  mereka, tak banyak membuat susah bagi pegawai yang merawatnya.Hanya sepenggal kue buat sarapan minum teh, serta obat-obatan tuk menghilangkan rasa pegel di bagian anggota tubuh yang sudah renta. Rasa iba itu selalu ada karena tak banyak perhatian yang tercurah untuk mereka, seandainya aku tua nanti akankah seperti mereka air mata ini tak kuasa menahan kalo mengingat keberadaan beliau

Bukan pehiasan, uang yang mereka inginan. mereka hanya ingin perhatian dan kasih sayang dihari tuanya . Namun apa yang dialaminya saa ini, pasrah pada keadaan dan bertahan sampai ajal menjemput. Semoga kalian tetap merasa memiliki keluarga besar disini nenek tete, meski kami bukan siapa-siapa kalian tetapi saat ini sudah bagian dari kami .



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal lebih dekat Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya “ Jakarta

Handycraft

Menggapai Asa di Panti Sosial Karya Wanita “Mulya Jaya” Jakarta